Indah Alamnya, Unik Budayanya. Sungguh Menawan Pulau Seribu Mesjid!
Pulau Lombok terkenal dengan destinasi wisata
lautnya yang indah. Tidak hanya pesona lautnya, pulau seribu mesjid ini juga
memiliki peninggalan sejarah, kebudayaan, serta makanan tradisional yang unik.Lingkungan
yang sejuk serta alam yang masih asri berdampingan harmonis dengan keramahan
para penduduknya. Inilah yang membuat para pelancong merasa seperti berada di
rumah sendiri.
Setelah meninggalkan Jakarta dalam kondisi hujan
ringan, kami tiba di Praya Lombok International Airport dengan cuaca cerah
sekitar pukul 14.30 WITA. Di bandara tersebut, kami di sambut pertunjukan alat
musik tradisional Suku Sasak.Gendang khas Lombok yang bernama gendang beleq
ditambah alat musik rebana, menambah semangat kami menelusuri salah satu pulau
di Nusa Tenggara Barat tersebut.Terdengar lagu bernuansa islami yang
didendangkan oleh para pria berpakakaian tradisionalnya, yaitu lambung.
Pulau Lombok merupakan salah satu pulau di
Kepulauan Sunda Kecil yang masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Barat.Kota
Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat dikelilingi oleh empat
kabupaten.Di antaranya Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah,
Kabupaten Lombok Timur, serta Kabupaten Lombok Utara.
Dari lokasi Bandara Praya yang letaknya ada
di Kabupaten Lombok Tengah, kami kemudian menuju ke Hotel Santika yang berada
di Kota Mataram.Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit dari bandara.Sambil
menengok ke sekeliling, kami bisa melihat area persawahan yang luas.Sesekali kami
mendapati bangunan-bangunan perumahan modern yang berada di tengah persawahan.Ketika
kami sampai keKota Mataram, kami melihat pemandangan yang tertata rapi. Kota
Mataram memang menjadi satu daya tarik Pulau Lombok karena terdapat banyak
ruang terbuka publik.
Tepat di depan Hotel Santika, Mataram, ada
satu taman yang menjadi ikon Kota Mataram, yaitu Taman Sengkareang. Di Taman
ini, terdapat satu air mancur buatan di bagian tengah, selai itu pada sisi
kanan terdapat area bermain anak. Taman ini menjadi pilihan masyarakat Kota
Mataram untuk bersantai di sore hari dikelilingi jajanan kaki lima dengan harga
yang terjangkau.
Tak jauh dari Taman Sengkareang, terdapat bangunan mesjid yang
megah. Bangunan tersebut bernama Islamic Centre yang berada di Jalan Udayana,
Kecamatan Selaparang, Mataram. Mesjid seluas sekitar 7,6 hektar ini akan
menyala dengan lampu warna-warni pada malam hari. Kecantikan dari warna lampu
itu membuat mesjid ini juga ramai dikunjungi masyarakat setempat untuk sekadar
mengambil foto.
Pantai
Senggigi, Lombok Barat
Hari Minggu, 19 Februari 2017, sekitar
pukul 17.00 WITA, kami beranjak menyaksikan sunset di Pantai Senggigi. Pantai
ini berada di Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa
Tenggara Barat. Perjalanan kami dari Kota Mataram untuk sampai ke pantai ini memerlukan
waktu sekitar 30 menit. Jalanan yang berkelok serta pohon-pohon rindang menjadi
pemandangan kami selama perjalanan.
Biaya tiket masuk ke Pantai ini sangat
terjangkau. Di luar biaya parkir kendaraan, setiap orang hanya perlu membayar
Rp1000 untuk masuk ke dalamnya. Suasana pada hari itu lumayan padat, mengingat
banyak wisatawan yang ingin menghabiskan akhir pekan di Pantai ini.
Tenggelamnya matahari baru dapat kami saksikan sekitar 18.30 WITA. Keelokan
warna orange serta langit yang mulai gelap memunculkan siluet jingga yang
menawan. Saat itulah para pelancong mulai mengabadikan momen sunset ini.
Selain menyuguhkan keindahan pantai, di
sekitar area Senggigi juga ada dua destinasi yang terkenal, yaitu Batu Bolong
dan Batu Layar. Batu Bolong merupakan pura yang di bangun di atas karang.
Menurut legenda yang diceritakan oleh masyarakat sekitar, zaman dahulu
pura ini digunakan sebagai tempat pengorbanan para gadis. Gadis (perawan) ini
diserahkan sebagai makanan ikan hiu yang ada di laut.Ada juga yang mengatakan
jika pura ini biasa digunakan sebagai lokasi para wanita patah hati yang hendak
menerjunkan diri ke laut.
Sementara, Batu Layar terletak tidak jauh
dari Batu Bolong. Batu Layar adalah makam
seorang ulama. Batu Layar dianggap sebagai tempat suci bagi para penganut Wetu
Telu.Oleh karena itu, pada saat perayaan “Lebaran Topat”, makam ini ramai
dikunjungi peziarah. “Lebaran Topat itu sekitar 1 minggu setelah Lebaran Idul
Fitri.Tetapi selain itu juga ada tradisi orang Lombok, yaitu kalau mau pergi
haji dia datang ke Batu Layar buat bernazar.Biasanya ramai di hari Sabtu dan
Minggu serta di hari-hari tertentu. Peziarah yang dating tidak cuma dari Lombok
Barat, tapi juga dari Lombok Tengah, Lombok Timur sampai ke Pulau Sumbawa,” ucap
Istri Bupati Lombok Barat, Khairatun Munzir Shi saat ditemui Genie di kediamannya
pada trip Februari 2017 lalu.
Pantai Senggigi menawarkan keindahan bawah
laut.Melalui airnya yang jernih, pemandangan bawah lautnya pun bisa terlihat.Untuk
itu banyak penduduk yang memanfaatkan keindahan air laut di Pantai Senggigi
untuk berenang dan bersenang-senang. Ombak di sini cenderung tenang, sehingga
aman untuk para wisatawan melakukan surfing ataupun snorkeling. Tak hanya itu,
di tepi pantai ini juga banyak terjejer perahu-perahu untuk disewakan bagi para
pengunjung.
Setiap tahunnya, masyarakat Lombok Barat mengadakan
festival di Pantai Senggigi. Festival Pantai Senggigi ini terdiri dari
pertunjukan sosial-budaya Pulau Lombok khususnya Lombok Barat. Ada pula pameran
yang menampilkan makanan khas dari daerah tertentu. “Pameran ini menyajikan
hasil olahan masyarakat Lombok Barat. Pada event ini juga kami hadirkan hiburan
berupa tarian tradisional. Dan kami juga mengadakan pawai untuk memeriahkan.
Dengan adanya event ini, diharapkan Budaya Lombok Barat bisa go internasional,” cetus Khairatun.
Gua
Lawa di Lombok Barat
Keesokan harinya, kami masih meneruskan
perjalanan ke wilayah Lombok Barat, tepatnya di Desa Lebah Sempaga, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat. Kami akan mengunjungi satu potensi wisata Desa tersebut, yang
bernama Gua Lawa yang berarti Gua kelelawar. Membutuhkan waktu satu jam untuk
sampai ke kawasan Gua ini. Gua Lawa telah menjadi target Pemerintah Desa untuk dikembangkan
sebagai potensi wisata Desa Lebah Sampaga untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat setempat. Karena masih dalam pengembangan, kondisi jalan menuju ke
Gua ini belum sepenuhnya rapi. Kami harus melewati persawahan, yang harus bisa
dijangkau dengan berjalan kaki.
Fasilitas menuju bibir Gua cukup terbatas.
Kadang kami harus meloncat karena belum tersedianya jembatan. Setelah melewati
tugu pintu masuk Gua, ternyata kami masih harus melewati tangga panjang
berwarna orange yang memiliki panjang sekitar 2 meter. Tangga yang lumayan curam
ini memiliki sekitar 50 anak tangga yang kemiringannya hampir 60 derajat.
Dengan amat hati-hati kami menyusuri satu per satu anak tangga, ditemani bunyi
aliran air yang deras. Tanda bahwa persis di bawah tangga ini terdapat sebuah
sungai.
Sampailah kami di bibir Gua Lawa yang cukup
luas dan lebar.Untuk masuk ke dalam gua kami harus melewati jalan kecil dan
sempit.Maka kami pun harus merangkak untuk bisa masuk ke dalam gua.Ketika masuk
ke dalam gua, suhu dingin pun terasa, ditambah kegelapan yang membuat kita
harus menyalakan cahaya apabila masuk ke dalam. Sekitar 100 meter kami
berjalan, kami pun melihat adanya cahaya dari lubang yang terdapat di atas gua.
Di pojok gua terdapat satu lubang tempat cahaya masuk. Lubang gua itupun
menjadi spot yang bisa digunakan untuk mengabadikan gambar.
Gua yang direncanakan sudah bisa dibuka
pada pertengahan 2017 ini masih terus dikembangkan pembangunannya. Pemerintah
daerah setempat bersama para pemuda bergotong-royong untuk mempromosikan tempat
ini dengan berbagai cara. Pemerintah Desa Lebah Sampage berharap tempat ini
bukan hanya menjadi sumber ekonomi masyarakat, namun juga menjadi bukti
perjuangan untuk membangun potensi wisata.
Tradisi
Unik di Lombok
Tradisi
Nyongkolan
Beragam prosesi pernikahan adat yang ada di
tiap daerah, begitupun di Pulau Lombok. Salah satu proses menuju pernikahan
yang dijalani masyarakatnya ialah proses merariq. Merariq adalah membawa lari
pasangan. Secara proses, merariq bukanlah melamar resmi. Perempuan dilarikan
oleh si laki-laki dan dibawa ke keluarga pihak laki-laki. Setelah itu,
dihadirkan kepala desa, tokoh adat, tokoh agama serta keluarga besar untukmengabarkan kepada keluarga perempuan,
bahwa anaknya sudah dilarikan untuk dinikahi.
Setelah dilakukan merariq maka terjadilah
penyerahan mahar yang disebut Sorong Serah. Yaitu penyerahan mahar dalam
ketentuan adat. Mahar ini bisa berupa uang adat dengan jumlah yang bervarasi
sesuai ketentuan adat ataupun sesuatu barang yang dianggap suci dalam hukum
adat. Tentu saja, dalam prosesi ini ada tokoh adat serta tokoh agama yang
hadir. Setelah Sorong Serah dilakukan, barulah diresmikan dalam pernikahan
secara agama.
Terakhir, kedua pengantin pun menjalani
tradisi arak-arakan pengantin dari satu desa ke desa lainnya bernama Nyongkolan.
Tradisi ini biasanya dilakukan dari desa asal si pengantin perempuan menuju
desa asal si pengantin laki-laki. Nyongkolan juga melibatkan para pemuda dan
pemudi desa untuk meramaikan. Tentu saja iring-iringan ini ditemani hiburan musik
gendang beleq dan ada juga yang menggunakan kecimol. Sementara pengantinnya
memakai baju adat Sasak, yakni lambung bahkan ada juga yang memakai dodot.
Selain Nyongkolan, ada tradisi unik lainnya
yang Lombok punya. Tradisi Nyale ialah tradisi yang terkenal di Lombok Tengah. Tepatnya
di Pantai Kute, Kabupaten Lombok Tengah yang pada waktu-waktu tertentu ramai
kebanjiran masyarakat untuk mencari cacing. Mengapa cacing? karena di Pantai
Kute ini, masyarakat memercayai bahwa cacing yang muncul setiap periode waktu
tertentu, merupakan wujud dari Puteri Mandalika. Di mana pada cerita legenda,
Puteri ini merupakan wanita cantik yang senantiasa diperebutkan oleh para laki-laki. Namun suatu
hari, Mandalika sengaja menyeburkan dirinya ke laut agar para laki-laki ini
tidak saling berkelahi memperebutkannya. Selain itu, Mandalika merasa dirinya
tidak boleh dimiliki hanya untuk satu orang saja, melainkan dengan berubahnya
ia menjadi cacing, ia bisa dimanfaatkan oleh semua masyarakat.
Tradisi
Keagamaan
Peringatan keagaaman umat muslim di Lombok,
tidak hanya pada hari raya idul fitri saja. Ketika datang peringatan Maulid
Nabi, masyarakat juga ikut merayakannya dengan tradisi makan besar. Peringatan
ini dilakukan selama 30 hari berturut-turut. Setiap wilayah membagi giliran waktu
untuk mengadakan makan-makan tersebut. Biasanya
para masyarakat membawa makanan ke masjid-mesjid untuk dimakan bersama-sama.
Tetapi banyak juga merayakan di rumah masing-masing dan mengundang orang untuk makan di rumahnya.
Tradisi Maulid Nabi ini terbuka untuk orang
luar. Di Pulau Lombok, Maulid Nabi menjadi kebanggan ketika didatangi oleh banyak
tamu dari luar. Akan muncul kesan dihormati. Berbeda ketika tidak ada tamu yang
datang, akan menjadi bahan omongan tetangga dan dianggap susah rejeki. Semakin
banyak yang datang semakin terhormat semakin banyak rejeki, semakin berkah.
Segala cara pun dilakukan untuk bisa
mendatangkan banyak tamu, termasuk menyediakan apa saja untuk di makan bersama-sama.
Makanan
khas Lombok
Masyarakat Lombok memiliki potensi kuliner
bercita rasa masam dan pedas. Nama-nama makanannya biasanya disesuaikan dengan
nama daerah tersebut. Satu yang paling terkenal ialah Ayam Taliwang. Taliwang
adalah nama salah satu daerah di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat
taliwang terkenal dengan olahan ayamnya yang khas, maka jenis olahan ayam ini
dinamakan ayam taliwang. Ayam taliwang ada yang dibakar, dan ada yang digoreng.
Ayam taliwang yang dibakar terasa gurih karena ada campuran santannya.Yang membedakannya
dengan olahan ayam lainnya adalah dari sambalnya. Sambalnya ini terasa pedas
dan juga asam. Kami pun berkesempatan mengunjungi salah satu kedai yang
menjajakan kuliner Ayam Taliwang di sekitar Kota Mataram, yaitu di RM Taliwang
Dua EM. Kedai ini berkonsep lesehan yang terletak di Jl. Transmigrasi No.99
Cakranegara, Kota Mataram.
Jenis ayam yang digunakan untuk olahan ayam
taliwang ialah ayam kampung.Untuk itu teksturnya sedikit lebih keras. Namun
resapan bumbunya sangat terasa.Untuk mencicipi Ayam Taliwang di RM ini, Anda
hanya perlu persiapkan budget sekitar Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per porsi. Di
temani minuman hangat yang menjadi menu favorit, yaitu jeruk madu hangat, yang
berkisar di harga Rp12 ribu. Hanya dengan harga yang terjangkau Anda sudah bisa
kenyang dan puas dengan cita rasa pedasnya.
Jika Anda berwisata kuliner di Lombok, Anda
pasti akan menemukan olahan yang selalu menjadi sajian pelengkap. Adalah
beberuk, olahan terung yang dicampur timun serta kacang panjang, kemudian dicampur
dengan sambal. Ada juga yang menambahkan penggunaan minyal sayur dalam olahan
beberuq. Cairan yang keluar dari timun membuat olahan beberuk terasa lebih
sedap. Rasanya cukup sensasional, karena rasa asam dan pedas dari sambal, makin
membangkitkan selera makan. Selain itu, sayur-sayuran dalam olahan beberuk
direbus tidak terlalu lama sehingga terasa masih segar. Biasanya, hidangan
beberuk ini diberikan secara gratis sebagai pendamping makanan lainnya.
Berbicara yang khas dari Lombok, Anda tidak
boleh melewatkan olahan plecing. Ada plecing kangkung, plecing manuk dan juga
plecing ayam. Olahan plecing kangkung terdiri dari kangkung yang ditambah tauge
yang berkecambah dan kacang tanah, serta dilengkapi urap sebagai bumbu yang gurih dan juga sambal
pedas. Selain olahan plecing ada juga berbagai olahan sate dengan
bermacam-macam penyajian. Sate tersebut ada yang dinamakan sate pusut, sate bulayak,
serta sate rembiga.
Kami juga sempat mencicipi olahan Sate
Rembiga. Rembiga adalah salah satu daerah di Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat
memang terkenal dengan kenikmatan daging sapinya. Kala itu, kami mendatangi
salah satu Rumah Makan yang berada tak jauh dari Hotel Santika Kota Mataram.
Rumah Makan bernama “Lesehan Sate Rembiga” ini menyajikan konsep lesehan yang
berbentuk pondok-pondok terletak di Jalan Dakota. Rembiga. Selaparang. Kota
Mataram. Sate rembiga di sini dihidangkan dengan bulayak. Bulayak adalah salah
satu jenis olahan lontong yang dibungkus oleh daun lontar ataupun daun aren.
Lontong ini berbentuk kerucut dan umumnya dihidangkan sebagai pelengkap sate.
Rasa daging satenya sangat khas, yaitu
pedas namun juga terasa manis. Pedas dan manis ini didapat dari perpaduan bumbu
racikan dari cabagi merah kering, terasi, bawang putih dan gula merah. Selain
itu, sate rembiga memiliki tekstur yang empuk. Ada juga olahan daging sate yang
dililit kemudian dilumuri kelapa. Sate lilit kelapa ini memiliki rasa yang
pedas dan juga wangi. Anda yang ingin menyantap olahan sate ini, cukup merogoh
kocek sampai Rp35-45 ribu per porsinya.
Tak hanya menyediakan sate rembiga, RM ini
juga menawarkan menu babalung. Babalung merupakan Sop yang terbuat dari balung
atau tulang sapi. Atau biasa disebut sop tulang sum-sum. Kuah dari sop ini
terasa sedap dengan racikan bumbu yang pedas dan segar. Selain menu-menu
tersebut, jika Anda berkunjung ke Pulau Lombok, Anda bisa mencoba olahan khas
Lombok yang lainnya, seperti sate pusut, nasi kuyung, ares, serta urap ebatan
(urap yang terbuat dari belimbing yang dicampur sayuran dan daun kemangi).
Naskah dan foto : Frandini Pramono














0 comments