Lelaki di Persimpangan
Dia adalah penikmat sepi. Ia sudutkan
dirinya di pojok ruangan kemudian ia masukan hatinya ke dalam kotak untuk
dibekukan. Dia tak begitu mengerti tentang hidup. Kakinya tetap melangkah tapi
tak peduli arah.
Sejauh yang ia mampu adalah menatap hari
ini, baru kemudian esok. Membaca rencana dua hari ke depan saja ia tak siap.
Namun, ia tak tampak seperti orang yang kehilangan jiwanya. Ia lebih tampak
seperti orang yang kehilangan separuh harapannya.
Ia tak tahu benar apa yang ditunggunya.
Jika saja malam bisa menghiburnya, ia takkan sesendu ini. Beruntung injakan
kakinya yang rapuh tak terdengar sama sekali.
Dengan selaras ia sesuaikan langkah kaki
melewati kardus-kardus lusuh penuh coretan lumpur. Tempat para pendulang barang
bekas mengepul karungan benda. Ia harus melewatinya saban hari. Kadang bau amis
tercampur dengan bau masakan para pedagang di warung makan. Namun hanya jalan
itulah yang membawa Ann sampai ke rumah.
Ia malas berpisah lewat kata begitu juga
malas bertemu dengan sapa. Hingga ia lupa cara bersyukur lewat senyum. Sering,
ia simpan senyumnya dari dunia. Baginya, senyum adalah satu-satunya barang
mewah untuk disaksikan orang lain. Sementara tawa hampir tak pernah ada. Hanya
rumah yang menjadi medan magnetnya. Rumah adalah tempat terbaik baginya untuk
kembali. Tempat yang selalu menerima seada-adanya dia. Tempat melupa segala
lelah. Lelah karena bertemu puluhan orang di jalan, rasa muak dengan omelan Pak
Obet, serta rasa bosan pada hidupnya sendiri.
---
Dingin membungkus tubuh Ann saat ia
hendak bergegas untuk bekerja. Di salah satu perusahaan travel yang tidak
begitu terkenal, ia menjual jasanya. Ini tahun ketiganya. Ia pilih tempat yang
hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya. Supaya ia tak perlu banyak bertemu orang.
Katanya, bertemu orang-orang di jalan tidak lebih baik daripada bertemu puluhan
laron yang berterbangan di jalan. Keduanya sama-sama mengganggu.
Pagi ini, ia habiskan sarapannya dengan
mengisap sebatang rokok, sambil menguyup kopi hitam dari gelas kaleng miliknya.
Sesekali, ia beli nasi uduk Bu Tin, jika ia lapar sekali. Namun, lebih sering
ia hanya menenggak segelas air putih hambar. Sehambar hidupnya.
Hidup sendiri di sekotak kontrakan jelek
sudah sangat cukup baginya. Ia tak perlu menyewa dua kotak, sebab ia tak punya
cukup barang untuk memenuhinya. Ia cuma punya satu komputer jinjing, satu kasur
kapuk yang lumayan bagus, satu galon air minum dan satu kipas angin. Baru saja
bulan ini ia membeli setrika, karena merasa bajunya terlalu lusuh jika dipakai
bekerja.
Dirinya terbilang cukup pintar bagi
seorang laki-laki yang tidak pernah belajar. Tampangnya tak begitu jelek untuk
seorang anak dari Ayah bertubuh pendek serta Ibu berambut ikal. Tapi sebagai
anak satu-satunya, ia tetap harus menuruni gen orang tuanya. Rambutnya ikal.
Ia tak percaya wanita. Rasa busuk itu
bertahan tanpa alasan. Dulu, Ann pernah menyukai teman sekelasnya. Cut namanya.
Gadis Aceh itu berhasil menggoda Ann yang hampir kehilangan selera terhadap
perempuan. Wajahnya putih, berhidung agak mancung, serta punya lesung pipi yang
tak mudah dilupakan Ann. Hanya saja, Cut tidak tertarik dengan Ann.
Dianggapnya Ann cuma anak laki-laki
biasa tak punya kelebihan. Ann cuma suka bawa buku kemanapun, dan juga
rambutnya ikal. Tak begitu menguntungkan bagi Cut. Ann memang tak jelek, tapi
sikap Ann yang sedingin besi membuat Cut takut. Takut kalau Ann adalah orang
aneh. Karena tak dilihatnya kalau Ann punya teman. Ann dulu seorang penikmat
sepi yang tak butuh teman. Bahkan sampai sekarang.
Cut menjauhi Ann, bahkan sebelum Ann
belum sempat mendekatinya. Malang nian nasib Ann. Namun, bukan kali itu saja ia
mendapat perlakuan buruk dari perempuan. Pernah, ia ditolak mentah-mentah oleh
Meri. Anak tetangga yang cantiknya bukan main. Idola laki-laki sekampung. Tapi
Ann, terlalu percaya diri sampai melupakan kalau Meri ternyata sudah punya
suami.
Alasan kenapa Cut menjauhi Ann adalah
karena dulu, Ann selalu mengenakan celana cutbray. Menurut Cut itu aneh.
“Bagaimana ya, Ann. Bukannya Cut tidak
suka Ann, tapi Cut itu gak suka sama
cowok yang suka pakai celana cutbray. Itu kuno sekali,” ucap Cut.
“Kenapa harus kuno. Ini celana dari
Ayah, katanya bagus. Nanti juga jadi tren,” kata Ann.
“Intinya Cut gak suka Ann. Sudah ya jauhi aja,
Cut” sambungnya sambil bergegas.
---
Sudah separuh hari Ann duduk saja di
kantor. Ia belum melayani satu pelanggan pun sejak pagi tadi. Beruntung, Pak
Obet, bosnya yang galak itu tidak masuk. Tenanglah sejenak otak Ann dari
kecerewetan bosnya itu. Tapi Ann cukup puitis hingga ia meluangkan waktunya
untuk menuliskan sebait puisi di buku catatannya.
“Dari sekian panjang perjalanan
Aku memiliki ragu tentang kehidupan
Sampai batas mana aku memiliki harapan
Mempunyai alasan untuk bahagia
Aku ingin memilikinya”
Entah apa yang mengganggunya hari itu.
Tetiba saja, ia memikirkan tentang bahagia. Apa yang dilewatkannya selama 26
tahun lalu, benarkah tanpa arti? Mungkin saja Tuhan benci melihatnya yang
selalu bersandar pada luka. Luka separah apakah yang dimilikinya? Luka ditikam
apa luka yang tanpa alasan? Entahlah.
Ibunya, Sari, satu-satunya yang mengerti
Ann. Ann tumbuh dengan keadaan tak terlalu ingin berinteraksi, jika tak
diperlukan. Itulah mengapa ia memilih menyimpan kata-katanya cukup di kepala.
Walau kadang lewat tulisan.
Sedikit mimpi Sari, ia ingin anaknya
yang kini telah menjadi pria bisa hidup selayaknya pria. Menjadi punggung dari
sebuah kehidupan suci anak-anaknya. Menjadi pelukan yang dinanti perempuannya.
Hingga kini telah renta, Sari tak henti melambungkan asa.
---
Ann teringat seorang wanita yang ia
temui di persimpangan. Kala itu, ia mengenakan selendang merah muda yang
dililitkan dileher. Memoleskan lipstick senada dengan warna selendang. Wanita
itu tampak lumayan cantik bagi Ann. Ia terkecoh selama beberapa detik, sampai
ia sadar bahwa harus segera bergegas.
Ia berlalu dengan perasaan menyesal tak
melihat wanita itu lebih lama. Bisa saja, kecantikan itu bisa menjadi
sarapannya pagi ini. Ia sadar, ternyata ia masih memiliki ketertarikan pada
perempuan. Namun segera ia kembali pada pertahanan abadinya. Perempuan tak
penting.
Dia hanya sendiri. ditemani bungkus
rokok yang kosong. Hidupnya bagai tergantung pada waktu. Ia cuma menunggu
ketika waktu bosan padanya, hingga waktu mengusirnya pergi. Di saat itulah ia
kembali mengingat perempuan di persimpangan yang belum lama dikenalnya. Adalah
Fatma, anak baru bagian keuangan di tempatnya bekerja.
Ia tak tahu apapun soal wanita, tetapi
kali ini, ia ingin tahu siapa Fatma. Ia tak punya nyali buat bertanya. Maka,
jadilah ia seperti ia yang sudah-sudah. Menyimpannya sendiri.
Ann tak begitu yakin soal perasaannya.
Ia cuma merasa terggangu sebab ingatan soal Fatma lebih sering muncul di kepala
dibanding ingatan tentang ibunya sendiri. Ann pun kembali mengingat
percakapannya dengan Fatma yang selalu singkat dan jarang sekali terjadi.
“Ann, di mana rumah asli kamu?” tanya
Fatma
“Ibu saya tinggal di Yogyakarta,”
singkat Ann
“Apa kamu gak berteman dengan yang lainnya di sini?,”
Ann hanya menggeleng
“Seperti apa orang ini sebenarnya?”
tanya Fatma dalam hati. Segera ia berlalu karena merasa tak ada gunanya
bertanya.
Ann tahu sikapnya akan membuat orang
lain merasa tak dihargai. Namun, ia tetaplah ia. Sulit untuk bersikap seperti yang
orang-orang inginkan. Sekalipun itu Fatma, ia tetap sulit untuk membuka diri.
Sulit menerima orang lain.
---
Ann saja yang tak tahu, Fatma sudah
berhari-hari menunggunya di persimpangan. Berharap ia berkesempatan berjalan
beriringan menuju kantor. Apapun yang Fatma rasakan, ia tahu itulah nalurinya.
Naluri penasaran yang mengalahkan apapun. Termasuk perasaan takut diabaikan.
Apa yang paling baik dari dua orang yang
saling menunggu adalah sebaik-baiknya kesabaran. Ann hanya tak tahu caranya
memulai, tapi Fatma juga tak pandai perihal mengungkapkan. Jika saja, bulan
sesekali turun memberikan petuahnya tentang penantian.
Sementara Ann asik berkelut dengan
dirinya sendiri. Tak pernah ada jalan baginya untuk keluar. Mungkin Ann yang
terlalu takut, sedang Fatma berbeda.
“Ann, sudah makan siang?” sergap Fatma
yang tetiba muncul dari ruangan keuangan.
“Belum,” singkat Ann.
“Ann bisa kita keluar makan siang
sebentar? Berdua,” tanyanya lagi.
Tanpa mengangguk, Ann beranjak dari
kursinya dan bersiap untuk pergi bersama Fatma.
Sungguh bukan cerita romantis yang bisa
diceritakan. Mereka berjalan dengan pertanyaan paling mendasar soal profil
masing-masing. Ann benar-benar tidak mengerti momen, sementara Fatma terlalu
berekspektasi tinggi.
“Ann, bagaimana pendapatmu soal
perempuan?”
“Saya nggak tahu tentang perempuan. Saya cuma tahu Ibu saya. Jadi kalau
kamu tanya saya, saya gak bisa
jawab,” jawaban terpanjang yang pernah Ann ucapkan.
“Kamu pernah menyukai perempuan?”
“Sepertinya pernah, tapi saya gak ingat kapan,”
“Ann, sebab apa kamu seperti ini?
menjauhi dunia luar?” lanjut Fatma.
“Saya cuma merasa lebih baik seperti
ini. Tidak menyakiti orang,tidak terluka ataupun melukai,”
“Tapi kamu butuh orang lain. Kamu gak
bisa nunggu dunia berputar untuk kamu. Karena dunia diciptakan bukan buat kamu
sendiri. Bukan dunia yang harus melihat kamu, tapi kamu yang harus melihat dunia,”
Fatma tidak tahu apa yang begitu mengganggunya hingga ia jengkel seperti ini.
“Jawaban kamu itu sama seperti orang
yang gak punya harapan. Kalau kamu memang mau sendiri, lalu bagaimana nasib
orang lain yang mungkin takdirnya ada sama kamu?” Fatma mengernyit sekali lagi.
Kesal dan pergi.
---
Tiba-tiba saja Ann memiliki perasaan
takut ditinggalkan. Takut tiba-tiba Fatma menjauh. Sebab itu, siang ini dengan
sengaja dia hampiri Fatma.
“Fatma, kamu marah sama saya?”
“Maaf Ann, mungkin kemarin saya yang
terlalu emosi. Tapi tolong lupakan soal itu, ya. Saya gak ngerti kenapa saya begitu,” jawabnya.
“Saya mau anter kamu pulang nanti. Apa
keberatan?” Mungkin Ann sudah menyerah soal Fatma, hingga pertahanan abadinya
tentang perempuan mulai meluntur.
Fatma tersenyum.
“Baik. Antar saya pulang kalau gitu!”
ucapnya.
---
“Kamu kemarin tanya saya, kenapa saya
begini?” Ann memulai.
“Ya, saya tanya kamu karena saya
penasaran. Tapi ternyata jawaban kamu begitu,”
“Emangnya
saya bisa hidup normal? Saya sudah seperti ini dari dulu. Apa bisa saya bikin
orang bahagia?” tanya Ann.
“Engga kamu gak bisa,” ucap Fatma. “Sebelum kamu bikin orang lain bahagia, pertama,
kamu harus bahagia dulu. Kalau kamu memang mau bahagia, ayo, coba. Gak mungkin Tuhan menciptakan kamu
sia-sia,” lanjutnya.
“Saya rasa kamu salah. Saya begini itu
mungkin sudah jadi garis yang dikasih Tuhan,” sergap Ann.
“Ya, mungkin saya salah. Tapi mungkin
juga kamu yang terlalu naïf. Kamu sudah dikasih kelebihan sama Tuhan, tapi kamu
anggapnya itu cuma hal biasa. Sementara saya enggak. Saya tahu Tuhan kasih saya
kelebihan ini untuk disyukuri dan saya mau dapat yang terbaik. Saya ingin kamu
begitu. Punya pemikiran sama kayak
saya,” jelas Fatma.
“Saya suka kamu dari awal. Saya cuma mau
dekat sama kamu, mau tahu kamu seperti apa, sehingga saya bisa mengubah cara
pikir kamu, bawa kamu ke arah positif.” Fatma terus berbicara. “Tapi, lama-lama
saya gak ngerti sama kamu. Apa saya
yang terlalu berharap tinggi sama kamu?” lanjut Fatma.
“Kenapa harus saya yang kamu suka? Saya
gak punya sesuatu buat dibanggakan. Kamu juga sepertinya menyesal sudah suka
sama saya,”
Fatma diam dan menggeleng.
“Mengatakan lebih dulu itu bukan perkara
mudah buat saya. Tapi tadi saya bilang dengan jelas ke kamu, kalau saya suka
sama kamu,” Fatma menghela nafas.
“Saya pikir kamu bakal menghargai saya.
Saya pikir kamu ada usaha untuk saya. Tapi saya salah,”tegas Fatma.
Sejenak mereka diam.
“Kalau saya juga suka sama kamu, apa
kamu masih mau terima saya begini adanya?” tanya Ann.
“Saya siap,” ucap Fatma. “Dari awal saya
tahu kamu begini. Saya tahu kamu dan masalahmu. Tapi saya justru mau temani
kamu. Kita jalan sama-sama. Karena untuk sampai di sini, saya sudah pikirkan
dengan baik,” lanjutnya.
Selama beberapa saat, mereka hanya tukar
pandang. Sesekali menunduk lalu memasang muka takut kepada masing-masing. Takut
jika jawaban sedikit apapun akan mengacaukan jalan mereka. Namun Ann telah
memilih.
“Saya ragu. Apa kita bisa sama-sama?
Saya terlalu aneh dan buruk buat kamu. Saya mau egois kali ini, tapi saya
sadar. Saya belum punya keinginan bersama orang lain,” kata Ann. “Apapun yang
kita omongin barusan, saya anggap itu gak pernah ada. Toh, saya juga gak mungkin
bisa sama kamu,” sambungnya.
“Kamu benar-benar mau begini ke saya?”
tanya Fatma.
“Saya minta maaf kalau sudah bikin kamu
seperti ini. Tapi saya rasa diantara kita gak perlu diteruskan lagi,"
lanjutnya memandang Fatma sebentar, kemudian berbalik.
---
“Jika ia mau pergi, biarkanlah
Tolong jangan buat semuanya semakin
sulit
Aku datang dengan kehampaan, jadi tak
mengapa bagiku pergi tanpa apa-apa
Mari kita sama-sama memenangkan
perjalanan ini dengan tidak berharap pada apapun selain doa.
Jika ia mau menjadi buih, jangan pernah
menahannya
Tolong yakinkan dirimu sekali lagi,
kalau dia bukanlah satu-satunya caramu untuk tetap hidup
Beri tahu dia mana jalan ke luar darimu
Ia tak semanja itu untuk dituntun menuju
pulang
Ia tidak pernah merepotkan Tidak akan.
Maka biarkan ia berlalu dan tertatih
sendiri
Sebab ia yang pilih
Sebab ia yang tak suka berdua, ia hanya
suka sendiri
Tunggu sampai ia benar-benar menderita
dan butuh untuk bicara
Tunggu sampai ia benar mengatakan, bahwa
ia butuh seseorang”
Tulis Fatma dalam blog pribadinya.
Menulis kini membantu Fatma melupa semua perihal Ann. Fatma harus merelakan
seseorang yang belum sempat termiliki. Atas seseorang yang hampir saja bahagia,
namun ia memilih mundur dan memutar balik arahnya.
Ann tidak salah. Tidak pernah salah. Ia
hanya memilih jalannya sendiri. Sebaliknya, Fatma hanya perempuan biasa yang
tidak bisa memenangkan jalan ini. Fatma tidak pernah menjadi pilihan bagi Ann.
Dan Ann, sampai kapanpun tidak akan pernah menang melawan kesenduannya.
Sudah seminggu setelah Ann memutuskan
pindah dari rumah kontrakan dan pekerjaannya. Dan Fatma hanya menikmati
kehilangannya. Fatma hanya tidak mengira kenapa kejujurannya justru mengusir
Ann dari satu bagian kehidupannya. Hingga sampai Ann membuka hatinya, akankah
dunia masih tetap sama? Masihkah Fatma menunggunya di persimpangan?
Frandini Pramono

0 comments